Gone Girl (2014) | Rekap Film

“Life? I don’t remember the point”

Pernah membayangkan scenario terburuk yang akan terjadi ketika pasangan mengetahuimu berselingkuh? Kami jamin scenario Amy akan jauh dari bayanganmu. Dilatar belakangi upaya balas dendam atas perselingkuhan Nick, Amy mengubah sandiwaranya menjadi kemungkinan tak terduga.

Film yang diadaptasi dari novel karya Gillian Flynn ini digarap oleh David Fincher untuk dijadikan film pada tahun 2014. Gone Girl mendapat banyak sanjungan terlebih untuk akting pemeran wanita, Rosamund Pike pemeran Amy Dune yang dianggap sempurna menggmbarkan wanita cerdas namun manipulatif pada ajang seperti BAFTA Award, Academy Award, Golden Globe Award, dan Screen Actors Guild Award.

Dimulai dari perayaan anniversary pasangan tersebut yang menyelipkan teka-teki untuk menemukan hadiah, Nick yang diperankan Ben Affleck, menemukan istrinya menghilang. Dugaan awal Amy diculik bergulir menjadi tempat kejadian perkara dimana Nick menjadi tersangka.

Spekulasi spekulasi yang muncul satu persatu membuat Nick terjebak dalam sangkaan membunuh sang istri dengan motif uang, diperparah dengan sikapnya yang memang apatis. Hingga akhirnya skandal perselingkuhannya terungkap. Walau begitu, film ini masih akan membuat kalian penasaran dengan kisah yang tersembunyi dibalik kepergian Amy.

Nick Dunne: “…Yes, I loved you and then all we did was resent each other, try to control each other. We caused each other pain.

Amy Dunne: “That’s marriage.”

Disini, Amy menunjukkan sisi manipulatifnya dengan memanfaatkan setiap elemen yang ada untuk mem-built skenarionya. Dimulai dengan memanfaatkan buku orang tuanya yang menggambarkan kisah hidupnya yang amazing (ps: Amazing Amy emang jadi judulnya) dengan segala prestasi dan attitude yang didambakan kemudian memanfaatkan kebiasaan mereka berdua untuk menggiring opini yang berjalan tersembunyi.

Penggambaran awal hubungan Amy dan Nick

Gone Girl menjadi terkesan nyata dalam menggambarkan bagaimana opini publik mempengaruhi persepsi seseorang. Dimulai dari selfie kecil dari supporter Nick yang justru menikamnya balik hingga acara talkshow yang menjadikannya bulan-bulanan. Juga terkesan nyata tentang bagaimana pernikahan bukan sekedar berisu atas cinta melainkan komitmen akan feedback yang didapat selama dalam ikatan tersebut. Penggambaran karakter keduanya yang menekan ego masing-masing menjadi boomerang ketika salah satunya berada di titik jenuh dan merasa “sayang” untuk melepaskan ikatan.

“They disliked me, they liked me. They hated me, and now they love me.”

Lebih jauh, film ini dikemas dengan monolog-monolog Amy yang satir dalam diarynya tentang bagaimana mereka mengubah diri untuk menjadi yang disuka dan berkompromi pada hal-hal yang terpaksa. Film ini mengejek, kamu yang mudah termakan berita, dengan konyolnya melalui penggambaran giring opini dari berita yang umum disaksikan di layar kaca. Film ini pun bermetamorfosa tak lagi berorientasi bagaimana hukuman pada suami yang selingkuh dan menjelma menjadi ajang mendapatkan simpatis terbanyak.

Salah satu adegan flashback dari diary Amy tentang pernikahannya

Sedikit warning untuk kamu yang tidak menyukai adegan ataupun konten explisit, karena meski singkat kamu juga harus bersiap dibuat terkejut. After all, film ini layak kamu tonton tapi tidak untuk dicoba.

When I think of my wife, I always think the back of her head. I picture cracking her lovely skull, unspooling her brain, trying to get answer. The primal question of marriage: What are you thinking? How are you feeling? What have we done to each other? What will we do?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *