Hotel Rwanda (2004) | Rekap Film

War does not determine who is right, only who is left. – Bertrand Russell.

“Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.”

Jika boleh, menggambarkan kisah ini dengan kutipan Presiden Soekarno diatas pasti sesuai. Dan memang benar perkataan beliau karena itu terjadi di Hotel Rwanda garapan Terry George pada tahun 2004. Persiapkan sekotak tissue jika kalian ingin melihat bagaimana genosida di Rwanda tahun 1994.

Didasari oleh konflik antar dua suku, Hotel des Mille Collines menjadi harapan terakhir bagi tragedi di Rwanda. Rasa dendam yang dimiliki kelompok Hutu terhadap kelompok Tutsi yang dianggap berkhianat membuat Paul Rusesabagina untuk mencari cara menyelamatkan istri dan anak-anaknya yang seorang Tutsi. Konflik diperparah dengan kematian presiden mereka yang berencana akan membuat perjanjian damai diantara dua suku tersebut.

There’s always room.

Setiap film tentunya memiliki hero. Yang dalam pikiran kita tentu haruslah yang berani, peduli sesama atau rela berkorban bahkan emang diciptakan untuk jadi hero. Tapi jika ditilik lagi apa itu benar ada atau hanya ada di film? Kok rasanya agak susah ya di dunia serba individualis seperti sekarang ini. Nah menonton film ini akan memperlihatkan kamu bahwa hero bisa jadi siapa saja. Gak harus baik sedari awal tetapi ikut berjuang di akhir.

Perkembangan karakter dari Paul Rusesabagina yang from zero to hero menjadi highlight bagaimana mereka bebas. Kita bisa melihat bagaimana dia egois yang hanya ingin menyelamatkan diri dan keluarganya berubah memberikan suaka bagi para tutsi yang menjadi tetangganya hingga bagaimana di satu momen ketika ia melihat kekejaman tersebut memutuskan bertahan sampai akhir menyaksikan semua yang berada di hotelnya selamat. Kita juga disadarkan bahwa perang hanyalah ajang bertaruh dari negara yang berpengaruh.

Jika sebagian lain menginginkan sebuah film segera selesai karena bosan atau tidak menarik, beda halnya dengan film ini. Kegemasan kita melihat kekejaman tersebut membuat kita ingin cepat-cepat film ini berakhir karena tidak kuat. Hotel Rwanda bukanlah film yang hanya menampilkan pembantaian massal melainkan bagaimana dunia melihat dan bersikap atas sebuah perang. Bagaimana sebuah diskriminasi masih bisa hadir dan memisahkan mana yang hidup dan mati. Dan ironi bahwa perang hanyalah ajang taruhan dari negara-negara yang menggemborkan kedamaian.

Jangan tunda lagi memasukkan film ini dalam daftar film yang wajib kamu nonton jika kamu penggemar film adaptasi sejarah. Atau kalau kamu mau belajar bagaimana memahami agama dan warna kulit hanya sekedar corak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *