Howl’s Moving Castle (2004) | Rekap Film

“A heart’s a heavy burden.”

Jika menyebut nama Hayao Miyazaki mungkin tidak semua mengenal sosok beliau. Tapi jika menyebut karakter Totoro atau No Face sudah pasti kalian tidak asing. Kedua karakter tersebut adalah buatan Hayao Miyazaki dalam produksinya di Studio Ghibli. Jika kalian adalah penggemar karakter fantasi seperti dua karakter di atas, mungkin tokoh ini akan menjadi favorit kamu selanjutnya, Calcifer dalam film Howl’s Moving Castle.

Howl’s Moving Castle adalah film animasi yang dikeluarkan Ghibli pada tahun 2004. Film ini termasuk dalam genre fantasi bersama dengan Spirited Away atau Ponyo. Nah, jika kamu memutuskan untuk menonton film ini kamu mungkin berpikir ini adalah film yang menceritakan kehidupan Inggris di abad pertengahan dimana trem masih jadi moda transportasi utama sampai kamu melihat pesawat tempur di udara. Film ini memperlihatkan bagaimana dunia sihir dan teknologi dijalankan bersama dalam sebuah kerajaan. 

Nah, kisah kerajaan paling identik dengan perang dan invasi. Itu juga yang akan kamu temukan dalam film ini yang menjadi pedoman alur cerita ini dari tokoh Howl sang penyihir dan Sophie, gadis muda pemilik toko topi. Hal yang menarik dari film ini adalah bagaimana Sophie yang dibuat tua justru lebih bersemangat dibanding dirinya sebelum terkena kutukan. Dirinya yang selalu merasa rendah diri dengan penampilannya yang tidak menarik baginya justru tidak berlaku sama pada beberapa karakter yang bersamanya ketika ia berubah menjadi tua. Hayao Miyazaki menunjukkan bahwa menjadi tua tidak hanya menderita dengan permasalahan tulang atau pikun. Sophie justru menjadi lebih berani dalam wujud yang seperti itu. 

Well, one nice thing about getting old is that nothing surprises you anymore”

Suasana perang dalam film ini sendiri adalah representasi dan reaksi dari Hayao Miyazaki terhadap invasi US pada Iraq yang terjadi saat itu. Beliau ingin membuat film yang membawa pesan bahwa hidup itu berharga yang terlihat dari karakter Howl yang berusaha mengakhiri perang dengan caranya sendiri. Pengemasan cerita ini sangatlah detail dengan tidak mengabaikan kehadiran karakter minor dan berhubungan dengan karakter utama seperti Heen yang berguling setelah diangkat Sophie ke tangga teratas, pintu utama yang berganti portal setelah Howl datang, juga bagaimana detail karakter utama dalam melakukan sesuatu seperti Sophie yang tetap digambarkan menyiapkan perbekalan atau menyimpan topi dan tongkat saat akan memasak. Alur cerita dikemas dengan humor diakhir setiap sesi yang cukup membawa perasaan pada pertengahan film kemudian cerita berjalan seperti plot pada umumnya dengan klimaks dan penyelesaian masalah. Di sinilah satu unsur lagi yang mewarnai film ini adalah dari bagaimana Sophie mengakhiri cerita dengan tindakan dan pola pikirnya. Hingga kalian bisa memahami bagaimana perang sebenarnya hanyalah konflik tidak berarti dan ego semata dari bagaimana konklusi perang ini tersuguh. Ga heran film ini memenangkan beberapa penghargaan internasional seperti Tokyo Anime Awards dan Nebula Award untuk kategori Best Script.

Film ini adalah pilihan tepat untuk kamu yang ingin terhibur dengan komplikasi fantasi, feminism dan anti-war sembari menunggu film terbaru Hayao Miyazaki pada tahun 2020 nanti dan menandai 40 tahun perjalanan Studio Ghibli.

“Well, the nice thing about being old is you’ve got nothing much to lose.” – Sophie Hatter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *