IT 2 (2019) | Rekap Film

You supposed to say, three”

It pertama, yang dirilis 2017 kemarin berhasil membuat teror bagi para penikmat film horror thriller yang sangat memorable dan menjadi bahan perbincangan sampai saat ini. Kini, It kembali hadir dengan sekuelnya, dengan berlatar 27 tahun setelah kejadian It pertama yang meninggalkan bekas luka dan janji teman lama. Mereka kembali untuk melawan Pennywise, sang badut penyebar teror bagi anak – anak.

The Losers Club mencari markas rahasia mereka

Ketika menonton film ini, besar ekspektasi penonton untuk melihat apakah film ini dapat kembali menyebar teror, apalagi dengan latar belakang cerita yang sangat kuat. Dari segi cast pun, the Losers Club dewasa diisi oleh aktor dan aktris yang mumpuni, seperti James McAvoy sebagai Bill, Jessica Chastain sebagai Beverly, Bill Hader sebagai Richie, dan peran Pennywise masih dipegang oleh Bill Skarsgard. Bisa dibilang film ini well casted, dengan memilih orang – orang yang tepat untuk mengisi peran dewasa. Yang menarik adalah, di film ini tetap memboyong para pemeran cilik dari film IT pertama, membuat para penonton film pertamanya bisa tetap bernostalgia dengan celotehan dan bumbu – bumbu komedi yang ditampilkan di dalam film. Namun dari berjalannya film, sepertinya IT 2 lebih menonjolkan sisi perlawanan Losers Club di bandingkan membuat Pennywise menjadi sosok utama yang mendominasi jalannya film seperti IT yang pertama, sehinggan walaupun banyak bumbu – bumbu jumpscare, makhluk – makhluk, dan ancaman lain, namun tidak se-ngeri IT yang pertama

cast The Losers Club

IT chapter 2 memiliki settingan teror yang sama, formula jumpscare yang sama, dengan CGI yang lebih mengerikan, darah dan muntahan yang slimy. Cerita yang disampaikan menurut kami belum se-memorable cerita yang pertama, bisa dibilang film ini menjual visual dan jumpscare saja. Saya pun sempat bingung dengan cara mengalahkan si Pennywise dengan ritual – ritual segala macam, lalu berlanjut ke konflik antar pemain, cinta segitiga, dan unsur – unsur cerita mikro yang lain, sehingga sedikit banyak membuat jalan cerita untuk mengalahkan Pennywise menjadi buyar, dan kembali kita diarahkan untuk hanya fokus ke pengembangan berbagai macam karakter lagi yang sebenarnya sudah di dapat di IT pertama. Bukan berarti semua adegan kurang, tapi memang ada juga adegan yang lumayan bikin sport jantung, seperti adegan nenek – nenek dan rumah kaca, dimana Bill berusaha menyelamatkan seorang anak dari Pennywise

dari segi sinematografis, film ini masih konsisten dengan Tone warna yang sama dengan IT pertama, namun yang membuat takjub adalah ketika adegan di Taman, secara cantik mood berubah dengan perubahan tone warna yang bisa membuat kita semua berfikir kalau ternyata warna memang penting untuk membangun kesan dalam sebuah film. Hal ini juga di dukung dengan sound effect yang mampu membangun suasana film yang makin mengerikan. Harapannya akan muncul kembali adegan ikonik seperti tarian Pennywise dan efek suara Pennywise yang mengerikan itu sayangnya tidak ditunjukkan kembali. Mungkin ingin membangun cerita yang segar dengan keterikatan masa lalu, dan menurut kami itu boleh – boleh saja, namun kalau ada mungkin sedikit banyak dapat membunuh repetisi cerita teror yang diulang

Bill Skarsgard sebagai Pennywise

Satu hal yang menarik adalah singgungan dan cameo yang muncul di film, seperti cameo Stephen King yang membuat saya tertawa (sepertinya saya seorang yang tertawa) ketika dia mengucapkan catchphrase “Here’s Johhny” dari film The Shining yang ikonis itu ketika Beverly kembali terjebak di toilet dengan banjir darah. Juga hadirnya karakter Henry Bowers yang sepertinya dalam anggapan kita sudah mati, namun hidup kembali dan menjadi suksesor Pennywise dalam membunuh the Losers Club. Hal ini membuat IT 2 menjadi semakin lebih menarik. Namun sayangnya tidak di dukung dengan cerita yang bercabang kemana – mana. Saya cuman bisa menikmati Cerita latar belakang Stanley dan percintaan Ben dan Beverly. Banyaknya cerita membuatnya bercabang dan menjadi tidak fokus akan tujuan utamanya, yaitu melaksanakan ritual untuk membunuh Pennywise

Teror Pennywise sang Badut

Namun tidak berarti film ini tidak layak dinonton, karena film ini akan menjadi konklusi dari IT pertama yang masih menyimpan banyak misteri, juga membawa kita untuk mengambil kesimpulan bahwa segala jenis kejahatan dapat ditumpas ketika kita percaya. Persahabatan adalah hal yang paling penting dan jangan pernah melupakan kenangan. Karena baik atau buruk, kenangan akan selalu mengingatkan tentang perjalanan dari susah menuju kesuksesan. Skor 7 dari 10 menurut kami cukup untuk film ini

Iryansyah Nasir

tukang review belum bersertifikat nasional, mengaku metal tapi nonton Grave of Fireflies tetap menangis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *