Joker (2019) | Rekap Film

“You don’t listen, do you?”

GILA. Kalau kalian keluar dari bioskop tiba-tiba merasa kosong atau tiba-tiba mempertanyakan tujuan hidup atau mengalami life crisis, tenang itu reaksi yang wajar untuk diterima para penonton film ini. Tidak hanya memberi dampak kekacauan bagi kota Gotham, Joker juga mampu mengguncang nalar bagi setiap yang menyaksikan. Menyelesaikan film ini akan memberikan kamu perasaan gelisah dan tidak terjelaskan. Dogma-dogma yang kamu percaya bedanya antara hitam dan putih akan mengabur menjadi benang tipis. Dan sepertinya itulah inti dari keberaan Joker, menggoncang pikiran dan sisi terdalam dari kita.

Arthur Fleck yang depresi

Satu hal yang kalian perlu tahu mengenai film ini adalah film ini tidak benar-benar membahas latar belakang Joker walaupun hal ini dikabarkan akan menjadi angin segar mengenai siapa sebenarnya Joker. Kalian akan dibawa melihat bagaimana seorang penjahat psychopath favorit kalian menghadapi dunia dan berubah melawan sistem yang ada hingga menjadi seorang Joker. Walaupun dikatakan film ini adalah karya standalone atau tidak berhubungan dengan kisah DC manapun, kita masih bisa melihat beberapa unsur dari film terdahulunya diselipkan dengan baik bahkan kaitan Joker dan Bruce Wayne, sang batman bisa terlihat meski sedikit ironi.

Arthur Fleck adalah seorang comedian yang berprofesi seperti badut dan stand up comedian. Arthur hidup bersama ibunya yang juga dirawatnya. Konflik dimulai ketika berbagai macam masalah yang datang memperparah kondisi mentalnya yang terganggu akibat kekerasan yang ia terima sewaktu kecil. Keluhan mengenai kinerjanya yang sebenarnya salah paham, efek sakitnya yang mati rasa terhadap pengobatan, keinginannya untuk berhasil dalam dunia komedi hingga perasaan pengkhianatan yang ia dapatkan memantik pergolakan dalam jiwanya bahkan menimbulkan efek halusinasi. Arthur Fleck hanyalah symbol dari sebab akiibat bagaimana manusia bisa menjadi jahat karena perlakuan buruk dan tindakan apatis lingkungan sekitar. Walaupun identik dengan kekacauan, kalian tidak akan menemukan adegan pertarungan yang sengit atau efek CGI yang memukau. Film ini hanyalah kisah bagaimana dunia memandang orang yang berada jauh di bawah mereka melalui Joker yang mengalami masalah hidup yang bertubi-tubi.

put on happy face

“For my whole life, I didn’t know if I even really exist. But I do, when people are starting to notice

Dalam film ini, kalian mungkin akan memahami mengapa Joker secara alami menjadi icon of chaos, yang meski tidak langsung berkaitan, tindakan tak disengajanya membawa kekacauan di Gotham. Arthur tidak memproklamirkan dirinya sebagai hero, tapi kegilaannya menjadi panutan. Jika Jokernya Ledger memainkan emosi manusia untuk menampilkan sisi terjahatnya, lain halnya dengan Joker versi Phoenix yang justru menjadi symbol pergolakan batin yang bisa merubah seseorang.

Kelicikan Joker terlihat dari bagaimana ia menggunakan massa untuk memberikan keuntungan pribadi. Hingga aksinya kemudian membuka jalan bagi minoritas menyuarakan diskriminasi yang tentunya tidak mereka inginkan tapi harus mereka terima.

gangguan saraf Arthur yang tidak dapat mengendalikan tawa nya

All i have are negative thoughts

Melihat akting Joaquin Phoenix dalam Joker akan mematahkan asumsi mengenai siapa aktor yang pantas. Karena totalitasnya yang bahkan harus kehilangan beberapa pounds berat tubuhnya, juga bagaimana ia mampu mengcover penderita PLC hingga memberikan efek ngeri pada penonton. Phoenix berhasil membawa Joker hidup sendiri tanpa terbayangi ataupun dikaitkan bagaimana Joker telah hidup sebelumnya.

transformasi Arthur menjadi Joker

People are not bad. They are made bad by surrounding and criticsm.

– Epoch

Melihat antusiasme akan hadirnya film ini yang sudah terlihat semenjak pemutaran premiere di Venice Film Festival yang mampu memberikan standing ovation, tidak aneh rasanya jika Joker digadang-gadang akan meraih Oscar, baik untuk kategori Film dan Aktor Terbaik bagi Joaquin Phoenix. Susah rasanya pula bagi Tim Rekavers untuk melepaskan efek dari Joker selepas menonton hingga skor 9 pantas diterima film tergila tahun ini.

Hati-hati jadi gila, ya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *