Perempuan Tanah Jahanam (2019) | Rekap Film

“ini salah iblis dan manusia – manusia lemah”

Joko Anwar sedang panas – panasnya tahun ini. Setelah Gundala, dan pengerjaan Ratu Ilmu Hitam yang akan rilis nanti, kita disajikan suguhan sinematik dan penceritaan kelas atas yang telah ditunggu oleh penonton, dan bahkan Sutradaranya sendiri. Perempuan Tanah Jahanam adalah buah karya Joko Anwar di tahun ini yang bisa di bilang sebagai film yang membutuhkan proses dan effort yang matang. Namun, apakah film ini memuaskan penontonnya?

dari segi sinematografi, Tandem Jokan dan Ical Tanjung memang sangat mematikan. Kita di suguhkan dengan warna gelap, jingga, hitam, dan sangat pekat, sehingga membuat kita yang menontonnya sangat terbawa dengan suasana mistis, sepi dan berkabut yang ditunjukkan di desa Harjosari. Kalau banyak yang mengatakan opening scene di film ini adalah salah satu yang terbaik di Indonesia, maka saya bisa mengatakan kalau opening Perempuan Tanah Jahanam ini sangat kampret sekali. Mulai dari intensnya karakter, scene, sampai warna kontras yang dimainkan antara pos tol dan jalan raya sangat kontradiktif, namun sangat nyaman di mata ketika dilihat. Kontradiksi adalah sesuatu yang sempat beberapakali di tunjukkan, baik di awal, maupun di akhir. Ketika Ode to Joy diputar di akhir dengan kebahagiaan warga desa, namun scene berganti dengan gambar Maya yang berlari mencari jalan keluar sambil berteriak ketakutan, membuat penonton terhenyak dan berfikir, kalau ternyata film Indonesia bisa se-intens ini mengacaukan fikiran penontonnya

Dini sedang digantung terbalik

Script yang dikerjakan hampir 10 tahun ini memang sangat apik dalam bercerita. Keluarga adalah sudut pandang yang selalu di berikan oleh Jokan dalam ceritanya. Mulai dari Modus Anomali, Pintu Terlarang, Pengabdi Setan, sampai film ini. Dengan konsep bercerita yang dekat dengan kehidupan sehari – hari, menjual otentiknya budaya Indonesia dengan desa dan hal mistis, baik kutukan maupun keramah – tamahan, membuat keterikatan emosional, dan kita sadar bahwa kejadian ini mungkin saja memang terjadi di Indonesia. Mungkin dalam narasi yang dibangun banyak dialog yang menyerempet keadaan Indonesia saat ini, dan beberapa mungkin terkesan selipan dan sangat kentara untuk dipaksa masuk, namun tidak mengubah esensi narasi keseluruhan. Dalam packagingnya sendiri penceritaan film ini sangat kompleks, sehingga penonton bisa menceritakannya bahkan ketika pulang di rumah. Mungkin bagi saya flashback di tengah terlampau panjang, sehingga the moment of truth yang seharusnya bisa kita dapatkan secara bertahap, langsung di tunjukkan sekaligus, sehingga adegan selanjutnya kita hanya akan merasa disuguhakan ketegangan dan pemecahan masalahnya. Namun itu semua dapat terbayar dengan totalitas akting yang di perankan oleh cast yang mengisi film ini

“kerasa nggak?”

saya angkat topi untuk seseorang wanita cantik bernama Asmara Abigail. Aktris yang digadang – gadang sebagai the next big thing-nya Indonesia ini sangatlah mencuri perhatian, bahkan dari pertama kamera menyorot dirinya. Karakter yang tidak bisa di tebak, namun meninggalkan kesan mendalam. Tara Basro dan Marissa Anita juga dapat kita acungi jempol akan totalitas aktingnya. Tara Basro yang sedari dulu menjadi langganan Jokan pun paham dengan karakter yang dia bawakan. Dengan muka datar, otentiknya karakter sampai cara berbicaranya pun sangat membumi dan sangat lokal, sehinggan tidak ada kesan kalau dia sedang berakting. Begitu pula dengan Marissa Anita. Projeknya bersama Jokan di Folklore-nya HBO pun menunjukkan kemampuannya berakting. Ditambah dengan Ario Bayu yang bisa dipastikan handal sebagai lelaki jawa dan Kapabilitas seorang Christine Hakim yang tidak usah kita pertanyakan lagi, membuat film ini semakin berkualitas. Satu hal yang dapat kita apresiasi adalah pemeran – pemeran lain yang ternyata belum pernah main film sebelumnya, namun di temukan Joko Anwar dan diajak bermain. Dan hasilnya, sangat tidak mengecewakan dan dapat menyaingi aura aktor dan aktris lain. Joko Anwar membuka kesempatan seluas – luasnya bagi Industri Film Indonesia untuk berkembang

salah satu pemeran pendukung di film Perempuan Tanah Jahanam

Sound Effect yang mengganggu menjadi pelengkap film ini. Dibandingkan dengan menganggap film ini adalah Horror Movie, mungkin lebih pantas kita sebut film dengan genre Supranatural Thriller dengan unsur Gore dan Psychological Thriller. Plot Twist yang dihadirkan punu membuat heran penonton dengan penyajian the moment of truth yang tidak di duga sebenarnya. Penonton di buat menebak – nebak tentang apa yang terjadi setelahnya, apalagi di dukung dengan ambience yang mencekam dari sinematografi, musik, dan narasi cerita. Film ini minim jumpscare, namun sangat disturbing, penonton pun diharapkan kebijakannya untuk tetap waras menonton film ini

di akhir, nilai 8 dari 10 sangat cukup untuk membuat film ini dapat menjadi salah satu film Indonesia paling favorit tahun ini. Semua unsur dapat saling melengkapi satu sama lain, walaupun di beberapa adegan sangat terlihat sesuatu yang kepanjangan, terutama di adegan flashback hingga di akhir terkesan hanya akan menjual intens dan ketegangan. Film ini cocok buat kamu yang ingin merasakan pengalaman sinematik yang Indah, mencekam namun tetap memuaskan walaupun kebanyakan dipenuhi dengan warna jingga dan gelap.

Iryansyah Nasir

tukang review belum bersertifikat nasional, mengaku metal tapi nonton Grave of Fireflies tetap menangis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *