Pulp Fiction (1994) | Rekap Film

“Ezekiel 25:17”

Nama Quentin Tarantino adalah satu diantara nama besar lahirnya film-film hits sepanjang masa. Tapi mari mengemas kehebatannya dari satu filmnya pada tahun 1994 yang berjudul “Pulp Fiction”. Film ini menetas bersama film sekelas Forrest Gump, Shawshank Redemption dan Lion King yang baru saja membuat remake versi CGI. Melalui film ini Tarantino menghadirkan gangster dengan cara “menyenangkan”. Bukan nyeleneh sih tapi dialog-dialog pintar dan kehadiran tokoh-tokoh yang bisa membuat kamu terkejut saat menontonnya. Film ini akan menagajr para pemikir konspirasi untuk rehat sejenak dari pemikiran liar.

Dimulai dari duo karakter hitman gangster Marsellus Wallace, Vincent Vega dan Jules Winnfield. Pasangan black and white ini menjadi duo ikonik lead role pada tahun 1990-an. Jules Winnfeld yang menjadi anak buah dan tidak segan membunuh orang yang diminta bossnya dihadirkan secara kontras sebagai seorang yang religius dan mengingat Tuhan hingga akhirnya memutuskan untuk berhenti. Pola berpikirnya yang sosialis dan penuh norma berkebalikan dengan Vincent Vega yang melihat dari sisi dalam dan permainan katanya dalam dialognya bersama Jules Winnfield memperlihatkan dirinya yang cerdas sekaligus santai pada saat bersamaan. Walaupun begitu Vincent juga memiliki sisi kontras atau mungkin kurang linear dimana ia memiliki egonya yang tinggi bahkan pada situasi yang genting. 

Vincent: How about a dog? Dogs eats its own feces.

Jules: I don’t eat dog either.

Vincent: Yeah, but do you consider a dog to be a filthy animal?

Jules: I wouldn’t go so far as to call a dog filthy but they’re definitely dirty. But, a dog’s got personality. Personality goes a long way.

Vincent: Ah, so by that rationale, if a pig had a better personality, he would cease to be a filthy animal. Is that true?

Jules: Well we’d have to be talkin’ about one charmin’ motherf***in’ pig. I mean he’d have to be ten times more charmin’ than that Arnold on Green Acres, you know what I’m sayin’?

Meski John Travolta dan Samuel L. Jackson adalah dua pemeran utama, film ini juga menyoroti karakter lain yang memberi dampak yang sama. Seperti Mia yang diperankan Uma Thurman bisa jadi karakter paling ajaib dan paling susah dijelaskan dalam film ini selain dengan ungkapan “penuh dengan kejutan”. Tapi jika ditarik garisnya, Mia hanyalah wanita yang sangat manja dan bebas. Dia tidak takut akan bahaya dan tidak suka mendengar penolakan ketika menginginkan sesuatu. Tetapi keunikan ini yang bisa dipahami mengapa karakter Mia sangat menarik. 

That’s when you know you found somebody really special. When you can just shut the fuck up for a minute, and comfortably share silence.

Bagi kamu yang baru kali ini menonton film Quentin Tarantino, kamu akan teraget bagaimana filmnya layaknya membaca sebuah novel atau menonton pementasan drama karena film yang terbagi dalam beberapa babak. Gaya cerita yang lompat-lompat membuat kita bertanya-tanya akan kemana cerita ini dan tidak lupa hadirnya detail-detail kecil membuat kita tetap berfikir apa maknanya. Beragam spekulasi atau teori mungkin hadir ketika kalian menonton, sekali lagic kalau kalian adalah penonton tipe pemikir garis keras. Tentunya pasti kalian akan susah menahan spekulasi saat Vincent diminta menjaga Mia akan berpikir ini hanyalah film skandal. Tapi seperti yang sudah dibilang sebelumnya, kalian harus bersiap dihajar dengan akhir yang bikin kalian mendumel dalam Bahasa Jepang “NANI THE HECK?”. Karena film ini bakal ngehajar ekspektasi kalian habis-habisan. 

Karena kualitasnya, Quentin Tarantino mendapatkan Palm d’Or pada festival film Cannes dan Best Screenplay – Motion Picture pada ajang Oscar. Oleh karena itu ga salah kalau kita kasih nilai 8.9 untuk film apik Pulp Fiction dari Quentin Tarantino. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *