Shutter Island (2010) | Rekap Film

 “People tell the world you’re crazy, and all your protests to the contrary just confirm what they’re saying.”

Menyebut nama Leonardo Di Caprio bisa jadi memercikkan ingatan kita pada film legendarisnya bersama Kate Winslet, Titanic. Film based on true story tersebut menstabilkan dan menerbangkan nama Leo sebagai aktor terbaik yang pernah dimiliki Hollywood. Tetapi kemasyhurannya dalam seni peran pun tidak hanya menetap dalam film tersebut. Terbukti dengan seringnya ia masuk dalam nominasi aktor terbaik, sehingga akan sulit menentukan satu nama dari kiprahnya yang paling berkesan. Salah satunya adalah perannya dalam film karya Martin Scorsese “Shutter Island” di tahun 2010.

Sebelum menonton film ini, pastikan kalau kamu akan baik-baik saja dengan darah, pembantaian, atau konten eksplisit lain yang mungkin bisa membuat kamu mual. Shutter island adalah film yang dapat dikategorikan sebagai film psychological thriller dengan selipan misteri seperti detektif. Kisah dimulai  dengan Leonardo DiCaprio menjadi Edward “Teddy” Daniels dan Mark Ruffalo sebagai Chuck Aule, melakukan investigasi di sebuah pusat psikiatri mencari pasien yang hilang. Setting dari film ini sendiri terinspirasi dari tempat nyata di Boston Harbour, Long Island dengan penjagaan minim yang pernah dikunjungi penulis novelnya, Dennis Lehane, sewaktu kecil.

Keanehan dalam film ini terlihat dari jejak-jejak hilangnya pasien bernama Rachel Solondo justru tidak mendapat ijin dari pihak lembaga dan juga perginya dokter yang menjadi penanggung jawab tersebut.  Padahal pasien tersebut dapat membahayakan orang, terlebih lembaga tersebutlah yang meminta bantuan. Dan seperti Umumnya dalam film detektif yang mendatangi sebuah pulau, Teddy dan Chuck diharuskan bertahan di sana setelah badai menerjang pulau tersebut tak lama setelah mereka tiba, sehingga tidak memungkinkan mereka kembali dengan keadaan laut yang ganas. Investigasi yang menjadi kunci membawa malapetaka dengan kambuhnya penyakit mental Teddy.

Layaknya film psychological thriller pada umumnya, kita akan dibuat bingung dan sakit kepala dengan melihat apa yang orang dengan penyakit kejiwaan rasakan. Helai abstrak antara dunia nyata dan fantasi akan menjadi kabur seperti yang terlihat dalam film The Shining, Black Swan dan Devil’s Advocate. Dalam film ini, sensasi itu dikemas dalam bentuk loncatan akan memori Teddy tentang mendiang istrinya juga frase seolah Teddy mampu merefleksikan apa yang Rachel Solondo lakukan saat membunuh ketiga anaknya, menjadi kejutan yang baru terjawab di akhir film.  

Walau tidak seekstrim lompatan tumpeng tindih dalam film-film tersebut, efek yang diterima penonton juga akan sama terganggunya terlebih lagi, dengan konten eksplisitnya yang mampu membuat kita ingin cepat-cepat mengakhiri film ini. Untuk membangun mood, pemilihan beberapa instrument orchestra sebagai latar lagu akan membuat kita mereferensikannya pada memori pembantaian di awal film sehingga cukup menjadi semacam shock terapi ketika hanya melihat turntable di paruh akhir film.

Which would be worst, to live as a monster or to die as a good man?

Film ini dinominasikan sebagai Top 10 Film Terbaik 2010 dari National Board of Review dan juga berhasil meraup keuntungan 294 juta dolar Amerika menjadi film terlaris kedua Scorsese. Tidak mengherankan karena film ini akan membuat kamu memikirkannya cukup lama untuk mengetahui ending yang sebenarnya mengenai apa yang terjadi pada Teddy dan manakah dunia nyata yang sebenarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *